Oleh: mipsos | Februari 23, 2009

Arca Garuda Wisnu: Reinkarnasi Airlangga

Belajar sejarah tidak harus melalui segudang cerita di ruang kelas, tetapi bisa dilakukan dengan melihat langsung bukti fisik berupa peninggalan-peninggalan sejarah. Itulah yang sering dilakukan para peserta Diklat Mata Pelajaran Sejarah di PPPPTK PKn dan IPS. Salah satu tempat untuk memperdalam pengetahuan sejarah sekaligus berwisata adalah Museum Trowulan.

Arca Garuda Wisnu di Museum Trowulan Mojokerto

Arca Garuda Wisnu di Museum Trowulan Mojokerto

Museum Trowulan terletak di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, sekitar 40 km arah barat Surabaya. Pendirian museum di Trowulan sangat strategis karena daerah ini adalah bekas lokasi Kerajaan Majapahit. Karena itu, tidak mengherankan jika di Trowulan terdapat sejumlah candi dan petilasan pada zaman Majapahit, seperti Candi Brahu, Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, dan Candi Kedaton.

Sejarah Museum Trowulan

Museum Trowulan mulai dibuka pada tahun 1926 dengan tujuan untuk menyimpan dan menampilkan benda-benda hasil penelitian Oudheidkundige Vereeneging Majapahit (OVM). OVM adalah sebuah perkumpulan yang didirikan oleh Bupati Mojokerto, Kanjeng Adipati Aria Kramadjaja Adinegara bersama Arkeolog Belanda Henry Maclaine Pont pada tahun 1924.

Perkumpulan ini ternyata cukup berhasil menyibak keanekaragaman peninggalan Majapahit. Baik dari penggalian, survei maupun penemuan masyarakat. Benda-benda ini dikumpulkan di kantor OVM. Karena jumlahnya terus bertambah, maka pada tahun 1926 dibangunkanlah oleh bupati enam bangunan lain untuk menampung jumlah peninggalan ini dengan bangunan bergaya arstitektur tradisional. Tempat ini kemudian dikenal masyarakat dengan nama Museum Trowulan yang dibuka untuk umum. Pada tahun 1942, ketika Jepang menginvasi Indonesia, museum ditutup karena Maclaine Pont ditawan oleh Jepang.

Pada tahun 1987 Museum Trowulan dipindahkan ke gedung sekitar 2 km di sebelah selatan dari tempat yang lama dengan nama Balai Penyelamatan Benda Kuno yang kemudian diganti lagi menjadi Balai Penyelamatan Arca (BPA). Koleksi di museum ini kian bertambah, karena pada tahun 1999 ada penambahan koleksi dari Gedung Arca Mojokerto yang ditukar guling gedungnya oleh Pemkab Mojokerto. Per 1 Januari 2008, akhirnya Museum Trowulan ditetapkan sebagai Pusat Informasi Majapahit.


Koleksi Istimewa

Museum Trowulan adalah museum istimewa karena 80% koleksi museum ini adalah peninggalan zaman Majapahit. Menarik sekali mengunjungi tempat ini, karena di museum ini terdapat relief dan patung yang menggambarkan kegiatan perdagangan dengan pedagang Cina. Pengunjung museum juga bisa melihat koleksi uang kepeng dan kelereng tanah liat dari zaman Majapahit.

Selain itu di sini juga dijumpai banyak arca dan prasasti yang dikumpulkan dari berbagai penjuru tempat bersejarah, karena memang fungsi utama Museum Trowulan adalah menyelamatkan benda-benda purbakala, terutama artefak dan arca. Di museum ini, terdapat sekitar 80 ribu koleksi benda purbakala, mulai periode prasejarah, periode klasik (zaman Hindu dan Budha), periode Islam, hingga periode kolonial.

Salah satu arca yang menarik bagi pengunjungnya adalah arca Wisnu yang sedang mengendarai Garuda. Arca yang dibuat pada masa Kerajaan Kediri ini dipercaya sebagai titisan Raja Airlangga. Arca ini juga menyimpan banyak cerita mulai dari Gunung Penanggungan sampai pada sang Garuda, sosok burung berbadan manusia.

Gunung Penanggungan

Gunung Penanggungan yang terletak di daerah Mojokerto, Jawa Timur adalah salah satu tempat di mana terletak banyak sekali situs sejarah. Kurang lebih terdapat 80 candi terdapat di situs ini. Rata-rata situs di sana adalah peninggalan pada masa Airlangga (1019 – 1042 M ), raja Kahuripan.

Salah satu bagian kitab Jawa Kuna Tantu – Panggelaran menguraikan perihal mitologi gunung ini. Dikisahkan bahwa semula Jawadwipa (Pulau Jawa) selalu bergoncang goncang, terombang- ambing oleh ombak Samudra Hindia dan Laut Jawa. Para dewa di kahyangan memutuskan bahwa Tanah Jawa cukup baik untuk perkembangan peradaban manusia. Berdasarkan atas hal itu Jawadwipa harus dihentikan goncangannya. Mereka lalu beramai-ramai memindahkan Gunung Mahameru (pusat alam semesta) yang semula tertancap di Jambhudwipa (India) ke Jawadwipa dengan cara menggotongnya bersama-sama, terbang di angkasa.

Selama perjalanan, bagian-bagian lereng Gunung Mahameru berguguran, maka terciptalah rangkaian gunung-gunung dari Jawa bagian barat hingga Jawa Timur. Tubuh Mahameru yang berat jatuh berdebum menjadi Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Sedangkan puncaknya dihempaskan oleh para dewa jatuh di daerah selatan Mojokerto, menjelma menjadi Gunung Penanggungan sekarang, atau gunung berkabut Pawitra, yang sebenarnya adalah bagian dari puncak Mahameru. Karena itulah Gunung Penanggungan disucikan oleh raja-raja terdahulu. Umat Hindu percaya bahwa semakin tinggi suatu tempat, maka akan semakin suci (sakral) tempat tersebut.

Salah satu hal yang menarik dari Situs Penanggungan ini adalah Candi Belahan yang terletak di lereng Gunung Penanggungan. Situs Belahan dipercaya adalah tempat bersemayam Raja Airlangga (dipercaya terdapat lampik atau tempat abu Airlangga, di dasar kolam belahan).

Kebiasaan yang berkembang pada masyarakat Jawa Kuno (masa Jawa Timur) adalah membuatkan arca dewa bagi raja yang sudah meninggal dunia. Arca itu kemudian disimpan di dalam suatu candi yang merupakan pendharmaan (pengabdian) raja tersebut yang dinamakan dhinarma. Tradisi seperti ini tidak dikenal di India. Tradisi ini merupakan kelanjutan dari pemujaan yang telah berakar jauh dalam kebudayaan Indonesia .

Arca Garuda Wisnu

Dilihat dari peninggalannya, Raja Airlangga adalah pemeluk agama Hindu sekte Wisnu. Hal ini nampak pada arca perwujudannya di Candi Belahan dengan yang bercirikan wahana (kendaraan) Dewa Wisnu yang berupa burung Garuda dan Arca Dewi Laksmi atau Dewi Sri yang juga merupakan istri Dewa Wisnu. Ada cerita tersendiri mengenai Garuda yang menjadi wahana Dewa Wisnu.

Dikisahkan tentang kehidupan Sang Winata (ibu Garuda) yang menjadi budak Sang Kadru (ibu para Naga), karena kalah taruhan mengenai warna Kuda Uchaisrawa. Semula ekor Kuda Uchaisrawa adalah putih semua. Tetapi atas perintah Sang Kadru terhadap anaknya (para naga) akhirnya ekor Kuda Uchaisrawa diperciki bisa sehingga berubah warnanya menjadi hitam. Sejak itulah Winata kalah dan menjadi budak Sang Kadru. Garuda yang merasa kasihan terhadap penderitaan ibunya, membantu merawat anak-anak Sang Kadru. Atas permintaan Garuda, Sang Kadru mau membebaskan ibunya dari perbudakkan dengan syarat diberi air suci (Amerta). Dalam pencariannya Garuda bertemu dengan Dewa Wisnu, yang kemudian berkata kepada Garuda: “Hai Garuda, jika engkau menginginkan Amerta, hendaklah meminta kepadaku”. Sementara itu Dewa Wisnu minta supaya Garuda bersedia menjadi kendaraannya. Garuda kemudian berhasil melepaskan penderitaan ibunya dari perbudakan sang Kadru dengan Amerta pemberian Batara Wisnu yang diwadahi dalam kendi Kamandalu. Sejak saat itulah Garuda menjadi kendaraan Wisnu.

Reinkarnasi Airlangga

Setelah Airlangga membagi kerajaan Majapahit menjadi Jenggala dan Kediri (nama lainnya Dhaha/Panjalu) tahun 1045, dia mengundurkan diri dan menjadi seorang pendeta yang bernama Resi Gentayu. Selama hidupnya, Airlangga bekerja keras meningkatkan kesejahteraan kerajaan dan rakyatnya yang hancur akibat serangan raja Wurawari pada waktu pemerintahan Teguh Darmawangsa. Itulah mengapa saat Airlangga meninggal, dia dianggap penjelmaan Wisnu sebagai sang penyelamat dan penjaga dunia dengan mengendarai Garuda. Di samping sebagai kendaraan Wisnu, Garuda merupakan simbol kebebasan dan juga dijadikan simbol kerajaan Kediri (Garudamukha). Dalam ilmu ikonografi, Garuda dilukiskan seekor elang bertubuh manusia dengan dua tangan atau empat sayap yang terbentang lebar. Gambar ini sama dengan kisah Garudeya dari Mahabrata Parwa. Airlangga meninggal tahun 1049 dan makamnya berada di daerah Belahan, sebuah kompleks percandian di pegunungan Penanggungan. Di tempat ini Airlangga berinkarnasi sebagai Wisnu di antara Laksmi dan Sri (Dewi Kesuburan) yang berwujud arca. (SA)

Ditulis oleh: Syachrial Ariffiantono

Staf Laboratorium Pendidikan Sejarah

PPPPTK PKn dan IPS Malang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: