Oleh: mipsos | Maret 24, 2009

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Pendidikan IPS dapat memberikan kontribusi yang cukup besar dalam mengatasi masalah sosial, sebab pendidikan IPS memiliki fungsi dan peran dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk memperoleh bekal pengetahuan tentang harkat dan martabat manusia sebagai mahluk sosial, keterampilan menerapkan pengetahuan tersebut dan mampu bersikap berdasarkan nilai dan norma sehingga mampu hidup bermasyarakat.

Kondisi ideal yang diharapkan dari hasil pembelajaran IPS di persekolahan dianggap belum sesuai dengan harapan, bahkan beberapa temuan penelitian dan pengamatan para ahli pendidikan memperkuat kesimpulan bahwa pendidikan IPS di Indonesia belum maksimal karena perwujudan nilai-nilai sosial yang dikembangkan dalam pembelajaran IPS masih belum begitu nampak aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari siswa. Keterampilan sosial para siswa lulusan masih memprihatinkan, terbukti dengan partisipasi siswa dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan semakin menyusut (Syaodih, 2008:2). Banyak penyebab yang melatarbelakangi mengapa pendidikan IPS belum dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan. Faktor penyebabnya dapat berpangkal pada kurikulum, rancangan, pelaksana, pelaksanaan ataupun faktor-faktor pendukung pembelajaran lainnya. (Soemantri, 1998), Sumaatmadja (1996) dalam Syaodih (2008:4).

Permasalahan pembelajaran IPS juga berkaitan dengan kondisi SDM pendidik seperti hasil penelitian Nursid Sumaatmadja (Soesetyo, 2004;2) diperoleh data sebanyak 60% guru IPS di Indonesia tidak berlatar belakang pendidikan IPS.

Menurut Lim (2008:1) berkaitan dengan permasalahan pembelajaran IPS di Indonesia, sistem pembelajaran IPS jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain, misalnya di Jepang. Pembelajaran IPS yang diberikan kepada siswa diberikan melalui hasil survei lapangan terlebih dahulu, sehingga sesuai dengan permasalahan dan aktual yang terjadi di masyarakat.

KAJIAN IPS

Definisi IPS (social studies) yang ditulis Komisi Studi Sosial dari National Education Association di Amerika Serikat memberikan batasan, bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang berkaitan dengan perkembangan masyarakat dan manusia sebagai anggota masyarakat (Poerwito, 1992:3). Selanjutnya Edgar W. Wesley (1952) menyatakan bahwa IPS berasal dari ilmu-ilmu sosial yang telah dipilih dan diadapasi sesuai kebutuhan persekolahan atau pengajaran lainnya. Sedangkan menurut Numan Soemantri, Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama (Numan Soemantri, 2001). Berdasarkan versi NCSS ( National Council for Social Studies), IPS (social studies) merupakan studi yang terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk mendukung komptensi seorang warga negara. Tujuan utama social studies adalah membantu generasi muda mengembangkan kemampuan pengetahuan dan keputusan yang rasional sebagai warga masyarakat yang beraneka budaya, masyarakat demokratis dalam dunia yang saling berketergantungan (NCSS, 2008:2).

Kajian IPS pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.

Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial sehingga menitikberatkan pada bahan-bahan pelajaran yang langsung menyangkut kepentingan siswa dalam rangka proses pembelajaran guna mencapai tujuan-tujuan pendidikan.

PRINSIP PEMBELAJARAN IPS

Mata pelajaran IPS masih dipandang siswa sebagai pelajaran yang membosankan dan dirasa kurang relevan dengan kehidupan mereka seperti yang ditulis dari hasil penelitian Stahl (2008:3) bahwa: “… studies classes are dull, boring, and irrelevant to their lives. If the curriculum in social studies is to continue to have support from school administrators, politicians, and the general public, it is desirable to have positive student attitudes towards the subject matter. For it is quite possible that negative attitudes toward social studies could ultimately result in a sharp decline in the allocation of resources for this subject area…” Haladyna and Shaughnessy dalam Stahl (2008:8) mengindikasi bahwa guru dan lingkungan pembelajaran memegang peranan yang kuat dalam membentuk sikap siswa terhadap IPS. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dalam kelas. Iklim kelas dan sikap siswa dapat diubah melalui intervensi guru dalam membangun image terhadap social studies, oleh karena itu pembelajaran IPS perlu diupayakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran IPS yang bermakna. Prinsip pembelajaran IPS (social studies) dalam jurnal NCSS pada sebuah penelitian berjudul A Vision of Powerful Teaching and Learning in the Social Studies: Building Social Understanding and Civic Efficacy yang ditulis oleh Stahl (2008:2), bahwa ada beberapa prinsip yang harus dipedomani dalam pembelajaran IPS sehingga pembelajaran IPS memberikan hasil yang maksimal, yaitu:

  1. Pembelajaran IPS yang baik jika bermakna (Social studies teaching and learning are powerful when they are meaningful). Siswa belajar menghubungkan pengetahuan, keyakinan dan sikap yang manfaatnya mereka peroleh baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Pembelajaran lebih ditekankan pada pengembangan ide-ide yang penting dalam memahami, mengapresiasikan dan menerapkannya dalam kehidupan. Kebermaknaan dari isi materi diarahkan pada bagaimana menyajikannya pada siswa dan bagaimana mengembangkannya melalui serangkaian kegiatan. Sedangkan interkasi dalam kelas difokuskan pada pencapaian kompetensi yang penting. Aktivitas pembelajaran yang bermakna dan strategi penilaian difokuskan pada perhatian siswa terhadap ide-ide penting dari yang mereka pelajari. Dengan demikian guru merefleksi perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran dengan mudah

  2. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang terintegrasi (Social studies teaching and learning are powerful when they are integrative) Pembelajaran IPS dalam penyampaian topik dilakukan melalui upaya mengintegrasikan dalam hal: a) lintas ruang dan waktu, b) pengetahuan, keterampilan, keyakinan, nilai dan sikap untuk dilaksanakan, c) teknologi secara efektif, d) melalui lintas kurikulum

  3. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang berbasis nilai (Social studies teaching and learning are powerful when they are value-based). Kekuatan pembelajaran IPS dengan mempertimbangkan berbagai dimensi atau topik-topik maupun isu-isu yang kontroversi, pengembangan dan penerapan nilai-nilai sosial. Pembelajaran IPS membentuk siswa menjadi: a) peka terhadap implementasi kebijakan sosial yang potensial serta keputusan berdasarkan nilai, b) sadar akan nilai-nilai, kompleksitas dan dilemma isu-isu, c) mempertimbang kan biaya dan keuntungan dari berbagai tindakan, d) mengembangkan rasional yang baik terhadap nilai-nilai sosial demokratis dan politik. Dengan demikian kekuatan pembelajaran sosial studies mendorong pengenalan pandangan yang berbeda, sensitivitas terhadap persamaan dan perbedaan budaya dan komitmen terhadap tanggung jawab sosial.

  4. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang menantang (Social studies teaching and learning are powerful when they are challenging). Siswa diharapkan mencapai tujuan pembelajaran secara individu dan kelompok melalui aktivitas berfikir siswa yang menantang.

  5. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang aktif (Social studies teaching and learning are powerful when they are active). Pembelajaran IPS yang aktif mengharapkan adanya kemampuan berfikir reflektif dan membua keputusan (decision making) selama pembelajaran. Siswa mengembangkan pemahaman baru melalui sebuah proses pembelajaran aktif dengan mengkonstruk pengetahuan sosial yang penting. Guru mengawali kegiatan dengan memberikan bimbingan melalui modeling, penjelasan, untuk membangun pengetahuan siswa menjadi independent dan menjadi pembelajar yang memiliki kebijakan sendiri. Pembelajaran IPS ini menekankan pada kegiatan otentik yang diperuntukkan pada penerapan kehidupan nyata dengan menggunakan keterampilan dan konteks materi di bidangnya.

KONSEP PEMBELAJARAN TERPADU DALAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)

Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Salah satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.

Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.

Berikut ini adalah model-model mengintegrasikan Ilmu-ilmu Sosial menjadi IPS, yaitu:

  1. Model Integrasi Berdasarkan Topik

Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan topik yang terkait, misalnya ‘Kegiatan ekonomi penduduk’. Kegiatan ekonomi penduduk dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam IPS. Kegiatan ekonomi penduduk dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi. Secara sosiologis, kegiatan ekonomi penduduk dapat mempengaruhi interaksi sosial di masyarakat atau sebaliknya. Secara historis dari waktu ke waktu kegiatan ekonomi penduduk selalu mengalami perubahan. Selanjutnya penguasaan konsep tentang jenis-jenis kegiatan ekonomi sampai pada taraf mampu menumbuhkan krteatifitas dan kemandirian dalam melakukan tindakan ekonomi dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi.

  1. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama

Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka peserta didik selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam IPS

  1. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan

Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, Pemukiman Kumuh ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dapat dari faktor historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan/norma.

PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS

Tujuan utama dari pembelajaran IPS adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil dalam mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Oleh karena itu pembelajaran IPS perlu diupayakan secara optimal dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran IPS (Stahl, 2008:2): 1) Social studies teaching and learning are powerful when they are meaningful, 2) Social studies teaching and learning are powerful when they are integrative, 3) Social studies teaching and learning are powerful when they are value-based, 4) Social studies teaching and learning are powerful when they are challenging, dan 5) Social studies teaching and learning are powerful when they are active.

Pembelajaran IPS akan meningkat jika guru mengunakan pendekatan pembelajaran yang diakses dari pendekatan kontektual, cooperative learning dan construktivisme serta bahan yang digunakan berasal dari bahan-bahan yang diajarkan di sekolah, dan juga diperoleh dari agen-agen pendidikan seperti di lingkungan rumah (family), masyarakat (community), pers (press), radio (radio) berbagai gambar bergerak dan televisi (motion picture and television) yang mempengaruhi pandangan sosial dan perilaku siswa.

Ditulis oleh: Dra. Deti Hendarni, M.S.Ed. dan Drs. Zainuri, S.H., M.Pd.

(Widyaiswara PPPPTK PKn dan IPS Malang)

DAFTAR RUJUKAN

Lee, Hyosin. 2007. What Makes Teachers Learn Together With Workplace?:Listening to Korean Teachers of English in Secondary Schools. KEDI Journal of Educational Policy. Volume 4 Number 1 Tahun 2007. Seoul: KEDI.

Lim, Jeffrey. 2008. IPA Lebih Tinggi Daripada IPS! Benarkah Itu?Taipei: diakses tanggal 1 April 2008 at Http//:www.limpingen.blogspot.com.

Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Permen Diknas No. 22, 23 dan 24 tahun 2006 Tentang SI, SKL dan Pelaksanaan SI-SKL. Jakarta.

NCSS. 1993. A Vision of Powerful Teaching and Learning in the Social Studies: Building Social Understanding and Civic Efficacy. Social Education journal . 57, no. 5 (September 1993): 213-223, reprinted at the end of this volume. USA: NCSS.

Poerwito, S.1992. Ilmu Pengetahuan Sosial. Malang: PPPG IPS dan PMP.

Soesetyo, Yoyok. 2004. Model Pembelajaran Terpadu. SUARA MERDEKA. dari www.dikdasmen.depdiknas.go.id diakses tanggal 4 Februari 2008.

Stahl, J. 2008. A Vision of Powerful Teaching and Learning in the Social Studies: Building Social Understanding and Civic Efficacy. Journal for Social Studies. USA: National Council for Social Studies. Waldorf, Maryland.

Syaodih, Erliany.2008. Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif untuk meningkatkan keterampilan social.Jakarta: FKIP Universitas Langlang buana. Diakses tanggal 31 Maret 2008. Educare Online Jurnal Pendidikan dan Budaya FKIP Universitas Langlangbuana.

Won, Kang Soon. 2005. Peace in Asia And Education for International Understanding. Journal of Education for International Understanding. APCEIU. Volume 1 (Pilot Issue). Tahun 2005.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: