Tanggal 27 Maret 2009 lalu, Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Sejahtera PPPPTK PKn dan IPS Malang menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2008 sebagai bentuk pertanggungjawaban kinerja pengurus kepada anggota koperasi. Momen yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi itu dihadiri kurang lebih 120 anggota. Selain itu RAT mengundang petugas dari Dinas Koperasi dan UKM (dahulu Disperindagkop) dan pengurus PKPRI Kota Malang.

Bapak Budi Santosa mewakili pengurus PKPRI Kota Malang dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada jajaran pengurus KPRI Sejahtera yang telah mampu melaksanakan kewajiban menyelenggarakan RAT tepat waktu. Sesuai UU 25 tahun 1992 tentang Koperasi, pasal 26 menyatakan bahwa 1) Rapat anggota minimal dilaksanakan sekali dalam setahun; 2) Rapat Anggota untuk mengesahkan pertanggungjawaban pengurus diselenggarakan paling lambat 6 bulan setelah tahun buku lampau. Hal ini mengindikasikan bahwa KPRI Sejahtera telah dikelola dengan baik sehingga mampu melakukan laporan pertanggungjawaban.

Para pengurus KPRI Sejahtera, dari kiri ke kanan:Bp. Mujiyono Hariyanto, Bp. Sucahyono MJ (ketua), Ibu Ariani, dan Ibu Siti Rahayu

Para pengurus KPRI Sejahtera, dari kiri ke kanan:Bp. Mujiyono Hariyanto, Bp. Sucahyono MJ (ketua), Ibu Ariani, dan Ibu Siti Rahayu

Lebih lanjut dikatakan bahwa RAT merupakan forum untuk mengevaluasi kinerja pengurus selama satu tahun dengan parameter program kerja yang telah dibuat satu tahun sebelumnya. Ciri ini tidak sama dengan badan usaha lain. Kehadiran pengurus, pengawas, dan anggota bertemu secara bersama telah mampu mengembangkan koperasi dengan baik, terutama dalam segi pelayanan. Dengan demikian RAT tidak hanya sekedar formalitas tetapi momentum ini juga dapat dimanfaatkan untuk menentukan strategi pengembangan koperasi.

Di samping itu, KPRI Sejahtera PPPPTK PKn dan IPS Malang juga dianggap telah sukses dalam menjalankan roda perekonomiannya, terutama melalui unit usaha simpan pinjam dan toko. Untuk melihat sukses tidaknya koperasi akan sangat tergantung pada 5 parameter yang dijalankan, yaitu: ideologi, manajemen, permodalan, usaha, dan keanggotaan. Dengan parameter-parameter tersebut KPRI Sejahtera telah mampu merumuskan “grand image”. Meski dengan keterbatasannya, koperasi mampu menyaingi pelaku-pelaku usaha yang lain. Koperasi akan mampu bekerja dengan baik manakala ia kembali pada jati diri koperasi, yakni: “dari, oleh, dan untuk anggota”.

Masih menurut Pak Budi Santosa, diinformasikan bahwa di PKPRI Kota Malang telah diadakan Program Senkuko (Sentral Kulakan Koperasi) di mana mekanismenya sama dengan grosir yang melayani barang kebutuhan sehari-hari. Selain itu juga ditawarkan kerjasama penyediaan Program Aplikasi Keuangan. Program ini akan sangat membantu bagaimana pengurus koperasi dengan berbagai macam tugas dan aktivitas yang padat tetap mampu menjalankan sistem pelayanan yang cepat.

Pada kesempatan itu juga kepala PKPRI beserta pejabat Diskop dan UKM Kota Malang melantik kembali Bapak Drs. Zainuri, S.H., M.Pd sebagai Pengawas Organisasi dan Administrasi Koperasi Sejahtera PPPPTK PKn dan IPS Malang untuk masa kerja 2009-2011. Selepas acara RAT, pengurus koperasi Sejahtera melakukan pengundian doorprize dan bagi-bagi Sisa Hasil Usaha (SHU).

Ini bukan pembagian BLT, tetapi pembagian SHU. Meski berdesakan, namun masih manusiawi.

Ini bukan pembagian BLT, tetapi pembagian SHU. Meski berdesakan, namun masih manusiawi.

Oleh: mipsos | April 23, 2009

Jumat Sehat dengan Jalan Sehat

Hari Jumat adalah Hari Olahraga. Itulah yang terjadi pada setiap instansi pemerintah pada umumnya, tak terkecuali di PPPPTK PKn dan IPS Malang. Setiap Jumat pagi, mulai pukul 07.00 WIB di halaman kantor selalu diadakan senam, baik itu SKJ 2004 ataupun senam aerobik. Namun pada Jumat 27 Maret 2009 yang lalu, kegiatan senam ditiadakan dan diganti dengan JJS: jalan-jalan sehat.

Inilah jalan sehat yang kali pertama dilakukan oleh para karyawan semenjak menempati kantor baru. Dengan maksud seperti hendak orientasi pengenalan lingkungan, peserta jalan sehat berjalan santai keluar area kantor, menyusuri jalan aspal di samping komplek Pusdiklat Arhanud kemudian memasuki perkampungan Sekar Putih. Seolah tidak ada yang memandu, peserta mencari-cari jalan alternatif untuk dapat mengelilingi kompek kantor PPPPTK. Setelah bertanya sana-sini kepada warga, ternyata jalan yang ditempuh harus menyusuri pematang sawah yang berkelok-kelok lumayan jauh.

Peserta berjalan beriringan menikmati hijaunya padi di sawah dan eloknya pemandangan Pegunungan Panderman. Seperti tak mengenal capek, route akhirnya mengarah ke jalan raya Pendem kemudian memasuki jalan Pusdiklat Arhanud dan kembali ke kantor. Kurang lebih 2 km perjalanan itu ditempuh. Pagi itu pagi yang sehat bagi peserta dan semoga dapat menambah kecerdasan karyawan akan apresiasi terhadap alam dan lingkungan sekitar.

Jalan sehat mirip outbound

Jalan sehat mirip outbound

Oleh: mipsos | April 23, 2009

Raker untuk Renstra 2010-2014

Dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya, sebuah lembaga memerlukan suatu rencana kerja yang terprogram, terarah, dan terkoordinasi. Untuk memenuhi hal itu, PPPPTK PKn dan IPS Malang mengadakan rapat kerja untuk menyusun rencana kerja yang matang agar di masa yang akan datang PPPPTK PKn dan IPS bisa menjadi lebih berkembang dan benar-benar menjadi lembaga yang profesional.

Rapat kerja PPPPTK PKn dan IPS Malang dilaksanakan pada tanggal 24 sampai dengan 25 Maret 2008, bertempat di Hotel Royal Orchids Garden, Jln. Indragiri No. 4, Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Acara ini dihadiri oleh para pejabat struktural, pejabat fungsional, pustakawan,penanggungjawab laboratorium, dan para staf yang seluruhnya berjumlah 32 orang

Kegiatan ini membahas tentang finalisasi penyusunan program rencana strategik (renstra) lembaga tahun 2010-2014, yang meliputi pengembangan program (program pengembangan pengkajian dan program pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan), penyusunan dan pembahasan deskripsi program dan indikator kinerja kunci (IKK), pengembangan sumber daya manusia, pengembangan fisik dan fasilitas lembaga, manajemen lembaga berstandar ISO 9001-2000, dan kemitraan.

Selanjutnya hasil rapat kerja ini masih akan ditindaklanjuti dengan penyempurnaan Renstra sampai dengan tanggal 3 April 2009.

Oleh: mipsos | April 23, 2009

Survey Kondisi TIK untuk RIPTIK

Pertengahan Maret 2009 lalu Tim ICT kedatangan tamu Tim Pengkajian RIPTIK dari Ditjen PMPTK. Tim yang diwakili oleh Ir. P. Insap Santosa, M.Sc., Ph.D. ini bertugas melakukan evaluasi, pengembangan dan perencanaan Rencana Induk Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RIPTIK). Dalam rangka itu, Tim ini mencoba melihat kondisi eksisting dan menggali masukan bagi pengembangan TIK untuk rentang waktu 5 tahun.

Kedatangan Pak Insap yang juga merupakan Kepala Program Pascasarjana Teknik Elektro UGM disambut Ketua Tim ICT PPPPTK PKn dan IPS Malang, Slamet Supriyadi, S.Kom., M.Ed. di kantor lama Jl. Veteran 9 Malang. Setelah itu kemudian bertolak ke kantor baru, Jl. Arhanud Desa Pendem, Kec. Junrejo Kota Batu untuk melakukan survei dan penggalian data.

Menurut Pak Insap, yang banyak dikenal sebagai penulis buku-buku ilmu komputer itu, kondisi eksisting TIK di P4TK PKn dan IPS secara umum sama dengan lembaga-lembaga lain di bawah Ditjen PMPTK, bahwa kondisi di lapangan secara adhoc posisi ke-TIK-an tidak terstruktur dan kacau balau. Karena itu nantinya melalui RIPTIK ini kegiatan pengembangan TIK dapat disinergikan, misalnya dalam hal tenaga ahlinya, Sistem Informasi dan Manajemen Kepegawaian (Simpeg), data alumni, data guru, perpustakaan, dan pengembangan infrastruktur lainnya.

Jika RIPTIK nanti dapat diwujudkan, maka diharapkan akan tercipta sistem informasi manajemen yang bagus antarlembaga di bawah payung PMPTK. Jalan tol sudah ada, yakni melalui Jardiknas. Kini tinggal infrastruktur, sarpras, dan SDMnya.

Pak Insap Santosa (kanan) sedang berbincang dengan para teknisi ICT

Pak Insap Santosa (kanan) sedang berbincang dengan para teknisi ICT

Oleh: mipsos | April 23, 2009

PELATIHAN FASILITATOR DD/CT DI PROVINSI NAD

Tanggal 17 s.d 24 Februari 2009, PPPPTK PKn dan IPS Malang bekerjasama dengan LPMP dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Banda Aceh Provinsi NAD mengadakan Training of Trainers Deep Dialogue and Critical Thinking (ToT DD/CT). Kegiatan ini merupakan pelatihan bagi fasilitator di daerah mengenai pengembangan pembelajaran yang bernuansa DD/CT.

Pembelajaran DD/CT merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang khas untuk membelajarkan Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Pendekatan ini didasarkan pada paradigme pembelajaran yang konstruktivistik. Pendekatan pembelajaran ini masih belum banyak diketahui oleh para pendidik terutama yang berada di daerah, untuk itulah dalam kegiatan ini sekaligus sebagai sosialisasi kepada para pendidik. Pendekatan DD/CT ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pendekatan yang digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah. Semakin banyak alternatif pembelajaran yang dapat dipilih dan digunakan oleh guru, maka guru akan semakin kreatif dalam menyampaikan pembelajaran di sekolah sehingga penyampaian materi di sekolah akan semakin mudah dipahami oleh anak didiknya.

Kegiatan yang berlangsung selama 8 hari itu dihadiri 40 orang peserta, terdiri dari para guru kelas I – VI SD, kepala sekolah, pengawas, dan widyaiswara LPMP. Materi yang disampaikan antara lain: Otonomi Pendidikan, KTSP, Pendekatan DD/CT, Pengelolaan Pembelajaran Bernuansa DD/CT, dan Praktik Mengajar. Sebagai Narasumber/fasilitator kegiatan ini adalah Kepala PPPPTK PKn dan IPS, Kepala LPMP Provinsi NAD, dan Kepala Dinas Dikpor Kota Banda Aceh, serta widyaiswara PPPPTK PKn dan IPS Malang yaitu: 1) Dr. Susanto, M.Pd; 2) Drs. Haryono Adipurnomo; 3) Dra. Hj. Sri Suntari, M.Si; 4) Dra. Endang Ekowati, M.Pd; dan 5) Dra. Hj. Widarwati, M.S.Ed.

Dalam kegiatan ToT DD/CT ini peserta diajak untuk merencanakan pembelajaran bernuansa DD/CT, melaksanakan pembelajaran bernuansa DD/CT baik melalui simulasi (peer teaching) atau praktik mengajar di sekolah (real teaching), sampai pada proses evaluasi pembelajaran bernuansa DD/CT.

Guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Kualitas profesional guru untuk mengelola pendidikan di sekolah menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pendidikan. Berdasarkan data Ditjen PMPTK tahun 2007, saat ini jumlah guru di Indonesia sudah mencapai sekitar 2,7 juta orang. Kuantitas guru yang cukup banyak ini ternyata masih belum diimbangi dengan kualitas guru yang memadai. Kualitas kompetensi yang dimiliki guru di tiap daerah masih belum merata. Untuk itulah guru perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas kompetensinya melalui kegiatan peningkatan kompetensi.

PPPPTK PKn dan IPS, sebagai salah satu unit pelaksana teknis yang memiliki tugas pokok untuk mengadakan pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, memberikan kesempatan kepada para guru untuk mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi. Namun karena jumlah guru yang cukup banyak, tentunya tidak semua guru dapat terfasilitasi untuk meningkatkan kompetensinya. Untuk itulah perlu diadakan seleksi.

Sasaran seleksi adalah guru-guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial (meliputi PKn SD, PKn SMP, IPS SMP, PKn SMA, Ekonomi SMA, Geografi SMA, Sosiologi SMA, Antropologi SMA, PKn SMK, dan IPS SMK) yang berjumlah 2500 orang dari 50 kota/kabupaten yang tersebar di seluruh provinsi se-Indonesia. Dengan rincian masing-masing kota/kabupaten 50 orang, terdiri dari 5 orang per mata pelajaran seleksi, yang nantinya akan diambil 1 orang peserta per mata pelajaran.

Seleksi Kegiatan Peningkatan Kompetensi dilaksanakan melalui tes tertulis baik tes objektif maupun subjektif. Tiap kota/kabupaten yang menjadi sasaran seleksi dipilih satu orang wakil calon peserta kegiatan peningkatan kompetensi untuk tiap mata pelajaran. Perbandingan calon peserta yang mengikuti seleksi dan calon peserta yang diterima tiap kota/kabupaten untuk tiap mata pelajaran adalah 5:1. Penilaian hasil seleksi akan diolah dan diranking berdasarkan nilai tertinggi untuk masing-masing mata pelajaran dan masing-masing kota/kabupaten. Materi yang diujikan didasarkan pada standar kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru yaitu kompetensi pedagogik, akademik, sosial, dan kepribadian.

Pelaksanaan Seleksi di Disdik Kab. Tangerang

Pelaksanaan Seleksi di Disdik Kab. Tangerang

Baca Lanjutannya…

Oleh: mipsos | Maret 24, 2009

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Pendidikan IPS dapat memberikan kontribusi yang cukup besar dalam mengatasi masalah sosial, sebab pendidikan IPS memiliki fungsi dan peran dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk memperoleh bekal pengetahuan tentang harkat dan martabat manusia sebagai mahluk sosial, keterampilan menerapkan pengetahuan tersebut dan mampu bersikap berdasarkan nilai dan norma sehingga mampu hidup bermasyarakat.

Kondisi ideal yang diharapkan dari hasil pembelajaran IPS di persekolahan dianggap belum sesuai dengan harapan, bahkan beberapa temuan penelitian dan pengamatan para ahli pendidikan memperkuat kesimpulan bahwa pendidikan IPS di Indonesia belum maksimal karena perwujudan nilai-nilai sosial yang dikembangkan dalam pembelajaran IPS masih belum begitu nampak aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari siswa. Keterampilan sosial para siswa lulusan masih memprihatinkan, terbukti dengan partisipasi siswa dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan semakin menyusut (Syaodih, 2008:2). Banyak penyebab yang melatarbelakangi mengapa pendidikan IPS belum dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan. Faktor penyebabnya dapat berpangkal pada kurikulum, rancangan, pelaksana, pelaksanaan ataupun faktor-faktor pendukung pembelajaran lainnya. (Soemantri, 1998), Sumaatmadja (1996) dalam Syaodih (2008:4).

Permasalahan pembelajaran IPS juga berkaitan dengan kondisi SDM pendidik seperti hasil penelitian Nursid Sumaatmadja (Soesetyo, 2004;2) diperoleh data sebanyak 60% guru IPS di Indonesia tidak berlatar belakang pendidikan IPS.

Menurut Lim (2008:1) berkaitan dengan permasalahan pembelajaran IPS di Indonesia, sistem pembelajaran IPS jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain, misalnya di Jepang. Pembelajaran IPS yang diberikan kepada siswa diberikan melalui hasil survei lapangan terlebih dahulu, sehingga sesuai dengan permasalahan dan aktual yang terjadi di masyarakat.

KAJIAN IPS

Definisi IPS (social studies) yang ditulis Komisi Studi Sosial dari National Education Association di Amerika Serikat memberikan batasan, bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang berkaitan dengan perkembangan masyarakat dan manusia sebagai anggota masyarakat (Poerwito, 1992:3). Selanjutnya Edgar W. Wesley (1952) menyatakan bahwa IPS berasal dari ilmu-ilmu sosial yang telah dipilih dan diadapasi sesuai kebutuhan persekolahan atau pengajaran lainnya. Sedangkan menurut Numan Soemantri, Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama (Numan Soemantri, 2001). Berdasarkan versi NCSS ( National Council for Social Studies), IPS (social studies) merupakan studi yang terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk mendukung komptensi seorang warga negara. Tujuan utama social studies adalah membantu generasi muda mengembangkan kemampuan pengetahuan dan keputusan yang rasional sebagai warga masyarakat yang beraneka budaya, masyarakat demokratis dalam dunia yang saling berketergantungan (NCSS, 2008:2).

Kajian IPS pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.

Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial sehingga menitikberatkan pada bahan-bahan pelajaran yang langsung menyangkut kepentingan siswa dalam rangka proses pembelajaran guna mencapai tujuan-tujuan pendidikan.

PRINSIP PEMBELAJARAN IPS

Mata pelajaran IPS masih dipandang siswa sebagai pelajaran yang membosankan dan dirasa kurang relevan dengan kehidupan mereka seperti yang ditulis dari hasil penelitian Stahl (2008:3) bahwa: “… studies classes are dull, boring, and irrelevant to their lives. If the curriculum in social studies is to continue to have support from school administrators, politicians, and the general public, it is desirable to have positive student attitudes towards the subject matter. For it is quite possible that negative attitudes toward social studies could ultimately result in a sharp decline in the allocation of resources for this subject area…” Haladyna and Shaughnessy dalam Stahl (2008:8) mengindikasi bahwa guru dan lingkungan pembelajaran memegang peranan yang kuat dalam membentuk sikap siswa terhadap IPS. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dalam kelas. Iklim kelas dan sikap siswa dapat diubah melalui intervensi guru dalam membangun image terhadap social studies, oleh karena itu pembelajaran IPS perlu diupayakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran IPS yang bermakna. Prinsip pembelajaran IPS (social studies) dalam jurnal NCSS pada sebuah penelitian berjudul A Vision of Powerful Teaching and Learning in the Social Studies: Building Social Understanding and Civic Efficacy yang ditulis oleh Stahl (2008:2), bahwa ada beberapa prinsip yang harus dipedomani dalam pembelajaran IPS sehingga pembelajaran IPS memberikan hasil yang maksimal, yaitu:

  1. Pembelajaran IPS yang baik jika bermakna (Social studies teaching and learning are powerful when they are meaningful). Siswa belajar menghubungkan pengetahuan, keyakinan dan sikap yang manfaatnya mereka peroleh baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Pembelajaran lebih ditekankan pada pengembangan ide-ide yang penting dalam memahami, mengapresiasikan dan menerapkannya dalam kehidupan. Kebermaknaan dari isi materi diarahkan pada bagaimana menyajikannya pada siswa dan bagaimana mengembangkannya melalui serangkaian kegiatan. Sedangkan interkasi dalam kelas difokuskan pada pencapaian kompetensi yang penting. Aktivitas pembelajaran yang bermakna dan strategi penilaian difokuskan pada perhatian siswa terhadap ide-ide penting dari yang mereka pelajari. Dengan demikian guru merefleksi perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran dengan mudah

  2. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang terintegrasi (Social studies teaching and learning are powerful when they are integrative) Pembelajaran IPS dalam penyampaian topik dilakukan melalui upaya mengintegrasikan dalam hal: a) lintas ruang dan waktu, b) pengetahuan, keterampilan, keyakinan, nilai dan sikap untuk dilaksanakan, c) teknologi secara efektif, d) melalui lintas kurikulum

  3. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang berbasis nilai (Social studies teaching and learning are powerful when they are value-based). Kekuatan pembelajaran IPS dengan mempertimbangkan berbagai dimensi atau topik-topik maupun isu-isu yang kontroversi, pengembangan dan penerapan nilai-nilai sosial. Pembelajaran IPS membentuk siswa menjadi: a) peka terhadap implementasi kebijakan sosial yang potensial serta keputusan berdasarkan nilai, b) sadar akan nilai-nilai, kompleksitas dan dilemma isu-isu, c) mempertimbang kan biaya dan keuntungan dari berbagai tindakan, d) mengembangkan rasional yang baik terhadap nilai-nilai sosial demokratis dan politik. Dengan demikian kekuatan pembelajaran sosial studies mendorong pengenalan pandangan yang berbeda, sensitivitas terhadap persamaan dan perbedaan budaya dan komitmen terhadap tanggung jawab sosial.

  4. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang menantang (Social studies teaching and learning are powerful when they are challenging). Siswa diharapkan mencapai tujuan pembelajaran secara individu dan kelompok melalui aktivitas berfikir siswa yang menantang.

  5. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang aktif (Social studies teaching and learning are powerful when they are active). Pembelajaran IPS yang aktif mengharapkan adanya kemampuan berfikir reflektif dan membua keputusan (decision making) selama pembelajaran. Siswa mengembangkan pemahaman baru melalui sebuah proses pembelajaran aktif dengan mengkonstruk pengetahuan sosial yang penting. Guru mengawali kegiatan dengan memberikan bimbingan melalui modeling, penjelasan, untuk membangun pengetahuan siswa menjadi independent dan menjadi pembelajar yang memiliki kebijakan sendiri. Pembelajaran IPS ini menekankan pada kegiatan otentik yang diperuntukkan pada penerapan kehidupan nyata dengan menggunakan keterampilan dan konteks materi di bidangnya.

KONSEP PEMBELAJARAN TERPADU DALAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)

Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Salah satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.

Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.

Berikut ini adalah model-model mengintegrasikan Ilmu-ilmu Sosial menjadi IPS, yaitu:

  1. Model Integrasi Berdasarkan Topik

Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan topik yang terkait, misalnya ‘Kegiatan ekonomi penduduk’. Kegiatan ekonomi penduduk dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam IPS. Kegiatan ekonomi penduduk dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi. Secara sosiologis, kegiatan ekonomi penduduk dapat mempengaruhi interaksi sosial di masyarakat atau sebaliknya. Secara historis dari waktu ke waktu kegiatan ekonomi penduduk selalu mengalami perubahan. Selanjutnya penguasaan konsep tentang jenis-jenis kegiatan ekonomi sampai pada taraf mampu menumbuhkan krteatifitas dan kemandirian dalam melakukan tindakan ekonomi dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi.

  1. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama

Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka peserta didik selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam IPS

  1. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan

Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, Pemukiman Kumuh ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dapat dari faktor historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan/norma.

PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS

Tujuan utama dari pembelajaran IPS adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil dalam mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Oleh karena itu pembelajaran IPS perlu diupayakan secara optimal dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran IPS (Stahl, 2008:2): 1) Social studies teaching and learning are powerful when they are meaningful, 2) Social studies teaching and learning are powerful when they are integrative, 3) Social studies teaching and learning are powerful when they are value-based, 4) Social studies teaching and learning are powerful when they are challenging, dan 5) Social studies teaching and learning are powerful when they are active.

Pembelajaran IPS akan meningkat jika guru mengunakan pendekatan pembelajaran yang diakses dari pendekatan kontektual, cooperative learning dan construktivisme serta bahan yang digunakan berasal dari bahan-bahan yang diajarkan di sekolah, dan juga diperoleh dari agen-agen pendidikan seperti di lingkungan rumah (family), masyarakat (community), pers (press), radio (radio) berbagai gambar bergerak dan televisi (motion picture and television) yang mempengaruhi pandangan sosial dan perilaku siswa.

Ditulis oleh: Dra. Deti Hendarni, M.S.Ed. dan Drs. Zainuri, S.H., M.Pd.

(Widyaiswara PPPPTK PKn dan IPS Malang)

DAFTAR RUJUKAN

Lee, Hyosin. 2007. What Makes Teachers Learn Together With Workplace?:Listening to Korean Teachers of English in Secondary Schools. KEDI Journal of Educational Policy. Volume 4 Number 1 Tahun 2007. Seoul: KEDI.

Lim, Jeffrey. 2008. IPA Lebih Tinggi Daripada IPS! Benarkah Itu?Taipei: diakses tanggal 1 April 2008 at Http//:www.limpingen.blogspot.com.

Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Permen Diknas No. 22, 23 dan 24 tahun 2006 Tentang SI, SKL dan Pelaksanaan SI-SKL. Jakarta.

NCSS. 1993. A Vision of Powerful Teaching and Learning in the Social Studies: Building Social Understanding and Civic Efficacy. Social Education journal . 57, no. 5 (September 1993): 213-223, reprinted at the end of this volume. USA: NCSS.

Poerwito, S.1992. Ilmu Pengetahuan Sosial. Malang: PPPG IPS dan PMP.

Soesetyo, Yoyok. 2004. Model Pembelajaran Terpadu. SUARA MERDEKA. dari www.dikdasmen.depdiknas.go.id diakses tanggal 4 Februari 2008.

Stahl, J. 2008. A Vision of Powerful Teaching and Learning in the Social Studies: Building Social Understanding and Civic Efficacy. Journal for Social Studies. USA: National Council for Social Studies. Waldorf, Maryland.

Syaodih, Erliany.2008. Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif untuk meningkatkan keterampilan social.Jakarta: FKIP Universitas Langlang buana. Diakses tanggal 31 Maret 2008. Educare Online Jurnal Pendidikan dan Budaya FKIP Universitas Langlangbuana.

Won, Kang Soon. 2005. Peace in Asia And Education for International Understanding. Journal of Education for International Understanding. APCEIU. Volume 1 (Pilot Issue). Tahun 2005.

Sebagai salah satu lembaga pengembangan dan pemberdayaan pendidik tingkat nasional, sudah selayaknya jika PPPPTK PKn dan IPS Malang menerapkan budaya mutu dalam setiap kegiatannya. Perjuangan PPPPTK PKn dan IPS Malang untuk memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 bidang  Sistem Manajemen Mutu sudah tercapai. Institusi pendidikan yang berlokasi di Jalan Veteran 9 Malang ini, berhasil memperlihatkan kerjasama tim yang solid dalam memajemen mutu dari segala bidang internal kualitas mutu. Tak salah jika SAI Global yang berkantor pusat di Australia, menganugerahi sertifikat ISO 9001:2000, karena mampu menunjukkan peningkatan dari segi mutu dan kualitas termasuk kepuasan pelanggan (peserta diklat). Sertifikat ini diserahterimakan oleh Andhika Sabang Marketing Manager SAI Global Indonesia kepada Kepala PPPPTK PKn dan IPS Malang Drs. H. Suparman Adi Winoto, S.H., M.Hum di Gedung Soka. Acara yang dilangsungkan pada hari Jumat 2 Mei 2008 pasca upacara memperingati hardiknas ini dihadiri seluruh pejabat struktural, fungsional, dan segenap staf.

Dalam sambutannya, Kepala PPPPTK PKn dan IPS mengatakan bahwa pembangunan pendidikan termasuk PPPPTK tidak boleh lepas dari tiga pilar kebijakan pembangunan pendidikan yang telah dicanangkan oleh Depdiknas, yaitu pertama, pilar perluasan dan pemerataan akses pendidikan; kedua, pilar peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan; ketiga, penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan. Berangkat dari tiga pilar ini, ISO merupakan suatu standar prestasi yang harus dikejar oleh setiap institusi atau lembaga di bawah Depdiknas, termasuk PPPPTK PKn dan IPS. Karena ISO akan memberikan arahan untuk meningkatkan kinerja lembaga yang pada gilirannya dengan meningkatnya kinerja lembaga, maka tiga pilar kebijakan tadi bisa terwujud. Untuk itu kita tidak boleh cepat berpuas diri terhadap hasil raihan sertifikat ISO, karena yang lebih penting adalah bagaimana kita mengimplementasikan berbagai prosedur mutu yang telah kita dokumentasikan ke dalam kinerja kita sehari-hari. Terkait dengan hal tersebut, harapan lembaga terhadap semua warga PPPPTK PKn dan IPS untuk selalu: 1) mendalami dan sekaligus menyempurnakan standar prosedur mutu yang telah didokumentasikan dengan tetap berpedoman pada Permen no. 8 tahun 2007 dan peraturan-peraturan yang berlaku lainnya; 2) selalu mentaati asas terhadap dokumen prosedur mutu yang telah dibuat dalam kinerja sehari-hari.

Baca Lanjutannya…

Oleh: mipsos | Maret 11, 2009

MIPSOS Sudah Punya Nomor ISSN

Terhitung sejak tanggal 13 Februari 2009, Buletin MIPSOS milik PPPPTK PKn dan IPS Malang memperoleh ISSN (International Standard Serial Number) atau Nomor Seri Standar Internasional, dengan Nomor ISSN: 2085-1871 – Nomor ID: 1234495095 – Nomor Kodebar: 9-772085-187006.

Apa itu ISSN? ISSN adalah sebuah nomor unik yang digunakan untuk identifikasi publikasi berkala media cetak ataupun elektronik. Nomor identifikasi ini sejenis dengan ISBN yang diperuntukkan bagi buku. ISSN diberikan oleh [ISDS] (International Serial Data System) yang berkedudukan di Paris, Perancis. ISSN diadopsi sebagai implementasi ISO-3297 di tahun 1975 oleh Subkomite no. 9 dari Komite Teknik no. 46 dari ISO (TC 46/SC 9). ISDS mendelegasikan pemberian ISSN baik secara regional maupun nasional. Untuk regional Asia dipusatkan di Thai National Library, Bangkok, Thailand. Sedangkan untuk Indonesia ditangani oleh PDII LIPI.

Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI adalah ISSN National Center untuk Indonesia, yang memiliki tugas dan wewenang untuk melakukan pemantauan atas seluruh publikasi terbitan berkala yang diterbitkan di Indonesia. Sebagai bagian dari tanggung jawab tersebut, PDII menerbitkan ISSN yang merupakan tanda pengenal unik setiap terbitan berkala yang berlaku global.

Sesuai dengan perkembangan dan era elektronik dan dijital saat ini, PDII LIPI sebagai otoritas resmi penerbit nomor ISSN untuk terbitan berkala di Indonesia telah membuka sistem registrasi dan administrasi ISSN secara online sejak 1 April 2008. Dengan demikian seluruh proses pendaftaran sampai penerbitan ISSN di Indonesia sudah dilakukan secara elektronik penuh melalui situs ISSN Online yang dikelola PDII LIPI. Dengan sistem ini pengelolaan ISSN lebih mudah, murah dan transparan. Lebih dari itu sistem ini memberi fasilitas tambahan berupa barcode generator online yang bisa dipakai untuk membuat kodebar ISSN tanpa perlu memiliki perangkat lunak yang berharga cukup mahal. Fasilitas ini merupakan yang pertama di dunia yang diintegrasikan dengan pengelolaan ISSN

Persyaratan untuk mendapatkan Nomor ISSN juga sangat mudah. Pertama kita harus melengkapi formulir permohonan online di halaman formulir permohonan ISSN baru. Setelah itu barulah kita mengunggah seluruh data elektronik yang dipersyaratkan untuk pengajuan ISSN melalui sarana yang tersedia, minimal 1) Halaman sampul depan terbitan berkala lengkap dengan penulisan volume, nomor, dan tahun terbit; 2) Halaman daftar isi; 3) Halaman daftar Dewan Redaksi. Kemudian tidak lupa melunasi pembayaran biaya administrasi sebesar Rp. 200.000,- ke rekening PDII LIPI. Setelah mengirimkan bukti transfer melalui situs ISSN, nomor dan kodebar ISSN bisa diketahui dan diunduh langsung dari halaman status pemohon setelah seluruh proses selesai dan disetujui.

Salah satu kelebihan penerbitan yang mempunyai nomor ISSN karena keberadaan majalah itu sudah diakui sehingga setiap tulisan di majalah itu bisa dijadikan angka kredit untuk promosi jabatan. Pun demikian halnya dengan Buletin MIPSOS yang telah ber-ISSN. Oleh karena itu sangat diharapkan kepada para pemegang jabatan fungsional, khususnya seperti widyaiswara dan pustakawan di lingkungan PPPPTK PKn dan IPS Malang untuk lebih produktif menulis artikel ilmiah dan aktif mengirimkannya ke Redaksi MIPSOS. Di samping akan mendapatkan tambahan angka kredit, tentunya juga akan membantu MIPSOS agar mampu terbit tepat secara berkala. (st)

Barcode yang nanti dicantumkan dalam sampul MIPSOS

Barcode ISSN yang dicantumkan dalam sampul MIPSOS

Oleh: mipsos | Maret 11, 2009

Siswa Prakerin di PPPPTK PKn dan IPS Malang

Sebanyak 24 siswa dari berbagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melakukan Praktik Kerja Industri (Prakerin) di PPPPTK PKn dan IPS Malang. Mereka mengawali kegiatan sejak bulan Februari hingga Juli 2009. Dari 24 siswa, 15 siswa dari jurusan Teknik Informatika (TI)/Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), masing-masing dari SMKN 9 Malang: 5 Siswa, SMK PGRI 3 Malang: 4 siswa, SMK PGRI 2 Malang: 3 siswa, dan SMKN 1 Purwosari Kab. Pasuruan: 3 siswa. Sementara 9 siswa lain berasal dari jurusan akuntansi: 4 siswa dan administrasi perkantoran: 5 siswa, semuanya dari SMK PGRI 2 Malang.

Prakerin merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistemik dan sinkronik antara sekolah dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan kerja langsung di dunia kerja terarah untuk mencapai tingkat keahlian profesional tertentu. Kegiatan ini bertujuan menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional dengan tingkat pengetahuan keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja. Selain itu, prakerin juga akan memperkokoh link and match antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (dudi).

Melalui prakerin ini diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk belajar bekerja mandiri dalam tim dan pengembangan potensi dan kreativitas sesuai bakat dan minat. Di samping itu siswa dapat berkesempatan berkompetisi untuk menjadi tenaga kerja yang produktif dan terampil.

Bagi PPPPTK Pkn dan IPS Malang, kegiatan Prakerin ini sangat membantu dalam pengerjaan program-program kelembagaan, khususnya dalam bidang Teknologi Informatika, di antaranya adalah pengerjaan instalasi jaringan laboratorium komputer, perawatan hardware, dan pengerjaan profil lembaga (company profile).

Prakerin: Ajang aplikasi teori bagi para siswa SMK

Prakerin: Ajang aplikasi teori bagi para siswa SMK

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.